Hadapi Tahun Politik, Media Massa Harus Jaga Netralitas
- Annas Aisya

- Sep 14, 2018
- 2 min read
Updated: Oct 15, 2018

Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, TV (Cangara, 2002). Media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak melalui proses pelaziman klasik, pelaziman operan atau proses imitasi (belajar sosial). Dua fungsi dari media massa adalah media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi (Rakhmat, 2001).
Media juga memiliki pengaruh yang sangat signifikan di masyarakat, terutama di Indonesia. Masyarakat selalu mengikuti perkembangan negaranya melalui media massa. Media massa membuat penyimaknya menjadi lebih kritis setelah mereka menyimak isi berita media tersebut. Dalam perjalanannya, media massa juga membuat masyarakat menjadi lebih bermoral. Fungsi kontrol sosial dalam media massa berjalan disini. Bagaikan seekor anjing penjaga, sebuah media menjaga masyarakatnya agar terhindar dari berbagai penyimpangan norma dan nilai sosial.
Tentu masih segar dalam ingatan kita ketika media televisi secara serempak memberitakan pengepungan teroris di Temanggung setahun lalu. Bahkan, sebuah media televisi nasional menyiarkan secara langsung drama pengepungan tersebut yang berlangsung kurang lebih selama 18 jam.
Saat itu di mana pengepungan belum selesai semua media sudah memberitakan bahwa tersangka teroris yang tengah dikepung Tim Densus 88 adalah Nurdin M Top. Bahkan, tidak lama kemudian semua media (bahkan media asing) secara serempak memberitakan bahwa Nurdin M Top telah tewas dalam peristiwa pengepungan tersebut. Selesai sudah petualangan buronan paling dicari. Begitu (lagi-lagi) vonis semua media massa tanpa menunggu informasi resmi dari Kepolisian. Namun, beberapa hari kemudian terungkap bahwa yang tewas dalam pengepungan selama 18 jam di Temanggung bukanlah Nurdin M Top melainkan Ibrohim.
Di sinilah yang menjadi salah satu letak kesalahan media massa. Mereka (baca: media massa-media massa) tidak pernah meminta maaf atas kesalahan yang telah mereka lakukan kepada masyarakat Indonesia atas kesalahan pemberitaan yang jelas-jelas terjadi. Dengan enaknya para media kemudian mencari bahan baru yang akan dikonsumsikan kepada masyarakat tanpa peduli dengan perasaan masyarakat yang pernah mereka giring dalam sebuah opini yang salah.
Inilah yang terjadi pada sebagian media massa di Indonesia. Mereka sering kali melupakan tanggung jawab moral sebagai sebuah sarana informasi. Karena, persaingan antar media yang kian ketat. Karena, mengejar oplah mereka cenderung memberitakan sebuah permasalahan hanya secara garis besar yang sekirannya laku untuk dijual.
Seperti dikutip Katadata News, Kamis (13/9/2018), beberapa pemilik media telah menyatakan dukungan terhadap pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Setidaknya, sudah ada tiga nama pemilik media yang saat ini ikut berada di barisan kubu petahana, yakni Surya Paloh, Hari Tanoesoedibjo, dan Erick Thohir.
Tak hanya berpotensi merugikan masyarakat. Kinerja media massa tersebut pun juga akan ikut terimbas dari sikap pemilik mereka.
Media massa tersebut berpotensi kehilangan pendapatan lantaran ditinggalkan para pengiklannya. Sebab, para pengiklan juga akan melihat bagaimana posisi politik pemilik dan bagaimana kepercayaan pemirsa dan pembaca terhadap media massa tersebut.
Lebih baik media massa tetap netral selama Pilpres 2019. Televisi yang netral justru mendapatkan keuntungan ganda, baik ekonomi maupun politik. Jika netral, iklan politik bisa didapat dari kedua kandidat.
Dengan demikian, masyarakat bisa memperoleh informasi yang lebih baik. Media massa pun juga bakal mendapatkan keuntungan signifikan karena munculnya kepercayaan masyarakat dan pengiklan.


Comments